Selasa, 01 Februari 2011

Dari Gerbang Ke Gerbang

Teknologi Canggih dan Inovasi

Penerbangan adalah alat transportasi modern yang paling aman, tetapi dari semua kecelakaan yang pernah terjadi di masa lampau dapat memberikan banyak pelajaran sehingga penerbangan di masa depan akan menjadi semakin aman. Perkembangan aviasi komersial selalu bergantung pada hasil penyelidikan kecelakaan penerbangan yang baik.
Namun kinerja teknis yang sempurna dan keterampilan pilot bukanlah faktor tunggal yang berhubungan dengan keamanan penerbangan. Keamanan juga bergantung pada kinerja pengawas lalu lintas udara sebagai pengatur lalu lintas penerbangan dari gerbang ke gerbang.
Pada masa awal penerbangan komersial, pengawas lalu lintas udara tidak duduk di dalam menara pengawas untuk mengawasi langit. Mereka hanya berdiri di dekat landasan pacu dan membimbing pesawat masuk dan keluar dari bandara udara hanya dengan membawa bendera. Penerbangan komersial mulai berkembang cukup pesat setelah Perang Dunia II. Pelaku bisnis dan para penumpang lainnya lebih memilih terbang dengan pesawat karena kenyamanan dan kecepatan ketika bepergian jarak jauh dibanding menggunakan bis dan kereta.
Setelah lalu lintas udara berkembang, pilot mulai menggunakan radio untuk berkomunikasi dengan pengawas di darat. Kemudian menara menjadi diperlukan untuk mengatur jumlah penerbangan yang terus meningkat, dan sebagai salah satu pelayanan Pengawas Lalu Lintas Udara modern.

Kecelakaan Grand Canyon

Kecelakaan yang terjadi di Grand Canyon, Arizona pada Juni 1956 memegang peranan penting dalam membentuk sistem Pengawas Lalu Lintas Udara. Kecelakaan itu terjadi setelah pesawat United Airline dengan nomor penerbangan 718 menabrak Trans World Airlines (TWA) dengan nomor penerbangan-2 di tengah langit Grand Canyon. Kedua penerbangan tinggal landas dari bandara udara Los Angeles dalam selang beberapa menit.
Tidak ada penumpang yang selamat dari kedua pesawat tersebut, tragedi itu menjadi kecelakaan terburuk dalam catatan sejarah penerbangan. Akan tetapi musibah di atas telah dijadikan sebuah inspirasi untuk mengubah sistem Pengawas Lalu Lintas Udara Amerika.
Pesawat terbang yang terlibat dalam kecelakaan Grand Canyon, Lockheed Super Constellation dan Douglas DC-7, adalah pesawat terbang yang paling moderen saat itu. Di era 1950-an, sistem yang digunakan untuk melacak lalu lintas penerbangan masih relatif primitif. Ketika posisi mereka telah terlacak di dalam menara pengawas, para pengawas lalu lintas udara harus memposisikan letak pesawat di atas peta berdasarkan kecepatan dan jarak ketinggian yang didapatkan dari pilot melalui komunikasi radio.
Sistem ini hanya memberikan para pengawas perkiraan kasar tentang posisi masing-masing pesawat, mereka sungguh tidak memiliki gambaran persis tentang lokasi pesawat.
Pada tahun 1950an, dataran Amerika masih belum terdeteksi oleh radar. Jadi pesawat terbang dengan peraturan: ”lihat dan terlihat.”
Dengan minimnya radar di darat untuk melacak posisi pesawat yang melintas di udara, pesawat yang berada di luar jangkauan radar hanya dapat dilacak berdasarkan perkiraan kecepatan dan jarak ketinggian dari laporan terakhir pilot ketika mereka masih berada dalam area pengawas udara.
Pada kecelakaan 1956, kedua pesawat tadi terbang dengan jarak ketinggian yang sama dan hampir pada kecepatan yang sama ketika mereka tiba di Grand Canyon. Kedua kru pesawat harus menghindari awan, karena terbang di luar jangkauan radar memaksa mereka agar tetap terlihat setiap saat.
Dipercaya kedua pesawat tadi melewati tempat dan saat yang sama tanpa mengetahui bahwa masing-masing telah berada pada jalur yang sama ketika bermanuver di angkasa Grand Canyon. Kecelakaan tersebut benar-benar mengejutkan publik yang pada sebelumnya telah bermunculan rasa kepercayaan diri untuk berpergian melalui udara. Seluruh bangsa sedang diperingatkan, bahwa mereka harus melakukan sesuatu untuk mencegah diulangnya kembali kecelakaan ini di masa mendatang.
Publik sontak marah ketika mereka mengetahui bahwa sistem pengawas lalu lintas udara tidak mencukupi dan tidak dapat mengatasi permintaan atas meningkatnya pengguna lalu lintas udara yang berpotensi menciptakan musibah lainnya. Akibatnya, pemerintah menghadapi tekanan agar segera bertindak untuk menyelesaikan masalah ini. Menjadi sangat jelas bahwa semakin banyak radar yang diperlukan untuk mengawasi lalu lintas penerbangan, dan sistem pengawas lalu lintas telah menerima pembaharuan yang substansial.

Koordinasi Militer atau Komersial

Pada tahun 1950-an, pesawat udara dikontrol oleh Administrasi Penerbangan Sipil (CAA) dan militer. Bagaimanapun, CAA tidak memiliki otoritas terhadap penerbangan militer yang mana bebas terbang dengan sedikit atau bahkan tanpa kendali peringatan. Akibatnya, rangkaian kecelakaan antara pesawat militer dan umum terus terjadi.
Contohnya, pada 21 April 1958, tabrakan di udara antara United Airlines Penerbangan 736 dan Pesawat tempur AS Air Force dekat Las Vegas, Nevada mengakibatkan kematian 49 orang, setelah kedua pesawat menghantam daratan.
Setelah dengar pendapat saat berlangsungnya kongres, Federal Aviation Act 1958 diluluskan dalam hukum federal dengan mendirikan Administrasi Penerbangan Federal (FAA).
FAA memiliki otoritas penuh untuk menguasai seluruh wilayah udara AS, termasuk penerbangan militer. Lebih lanjut, fasilitas ATC, prosedur, dan peralatan bahkan terus diperbaiki.
Sekarang, semua pesawat terbang diwajibkan menerapkan sistem kontrol ketat. Ruang untuk setiap pesawat juga dikontrol karena perkembangan sistem radar di seluruh negeri memungkinkan untuk melakukan itu. Meskipun perkembangan ini memberikan kontribusi terhadap perjalanan udara yang lebih aman, 52 tahun kemudian sistem ATC masih perlu ditingkatkan lagi.

Permintaan meningkat / pengontrol di bawah tekanan

Walau naiknya harga BBM dan kondisi ekonomi yang tidak pasti, penumpang masih memilih jalur penerbangan, tetapi mereka sering terpancing dengan harga tiket murah yang ditawarkan maskapai kelas bawah. Hal ini memicu semakin banyaknya jumlah pesawat di bandara yang mengakibatkan landasan pacu semakin padat, lalu lintas yang lambat, dan pesawat dengan mesin hidup yang menunggu waktu terbang turut memicu masalah lingkungan.
Pekerjaan ini bukan untuk semua orang. Pengawas haruslah mampu mengatur dengan baik, cepat berhitung dengan percaya diri tinggi dan punya kemampuan mengambil keputusan dengan tegas. Mereka harus punya kemampuan daya ingat jangka pendek yang luar biasa, termasuk daya pendengaran yang sangat baik dengan kemampuan berbicara baik.
Pengawas harus terus berkomunikasi dengan beberapa pilot. Mereka menggunakan sistem radio push-to-talk, yang artinya hanya satu transmisi tersedia di satu frekuensi setiap saat, jika tidak maka transmisi akan bergabung bersama atau saling menghalangi dan tidak dapat digunakan. Ini adalah aspek batasan pada sistem ATC saat ini.
Setiap saat pengawas harus mengoordinasi informasi yang sangat banyak, termasuk kecepatan pesawat, altitude, dan pemisahan antara pesawat. Karena jumlah penerbangan semakin banyak, pengawas harus bekerja dengan semakin cepat dan efisien. Ini berarti risiko kesalahan semakin tinggi karena satu kesalahan komunikasi tentang tingkat altitude atau nomor landasan akan menyebabkan bencana.
Lebih lanjut, pesawat modern terbang lebih cepat dan lebih tinggi dibanding pesawat 1950-an. Sementara sistem radar terkini mampu menentukan koordinat pesawat di dalam area terkontrol secara tepat, tetapi metodenya tidak sempurna. Radar tidak bisa mendeteksi pesawat yang terbang di luar area dan signal radar juga bisa dihalangi oleh dataran dan cuaca buruk.
Banyak orang percaya bahwa sudah tiba saatnya untuk mengevaluasi kembali dan meningkatkan sistem ATC sehingga pengawas lalu lintas udara dapat terus memastika keamanan perjalanan udara.

0 comments:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Archive

 

zoom-mycasebook. Copyright 2009 All Rights Reserved Free Wordpress Themes by Brian Gardner Free Blogger Templates presents HD TV Watch Shows Online. Unblock through myspace proxy unblock, Songs by Christian Guitar Chords