Kamis, 03 Februari 2011

Titik Balik Kehidupan : Hati Timbul Pikiran Baik



Dalam setiap kurun waktu tertentu, tempat kerja saya selalu mengadakan kenaikan pangkat bagi para pegawai, ada yang merasa senang, ada juga yang kecewa. Suasana hati saya juga ikut naik turun karena pengaruh situasi tersebut, dapat sedikit sangat senang, kehilangan sedikit merasa sedih.

Perasaan semacam itu bagaikan lima rasa bercampur aduk (manis, asam, pahit, pedas, dan asin). Walaupun hidup saya tidak kurang suatu apa pun, tapi dalam hati masih saja merasa kurang, sulit untuk dikatakan apa sebenarnya kekurangan itu.
Suatu hari, mendadak saya menemukan bahwa ternyata kekurangan saya itu adalah puas diri. Hasrat telah menarik saya mengerjakan tuntutan tanpa batas, saya berharap angka di buku tabungan saya makin hari makin bertambah; berharap suami saya berjaya seperti suami orang lain; berharap dalam pekerjaan bisa menjabat suatu posisi penting, sehingga tidak perlu selalu melihat ekspresi muka orang lain.
Di luar dugaan semula pengejaran terhadap keinginan-keinginan inilah yang telah menjadi sumber dari kesengsaraan saya. Atasan langsung saya adalah seorang manager wanita, sangat pandai di bidang Public Relation, menjilat dan mengambil hati dialah jagonya, sebenarnya hidupnya sangat melelahkan. Wajar jika dia juga mengharapkan bawahan yang menurut dan bisa menyanjung.
Jujur dan berterus terang adalah watak pembawaan saya, jika bukan hitam pastilah putih, tidak senang melebih-lebihkan suatu hal, menjilat atau mengambil muka, juga adalah orang yang suka berbicara demi keadilan, melindungi yang lemah. Orang seperti saya di mata pimpinan saya bagaikan duri dalam mata, meskipun dalam mulutnya selalu mengatakan jika saya yang mengerjakan suatu pekerjaan dia sangat lega, tapi hasil penilaian akhir tahun selalu memberikan nilai jelek.
Saya sangat benci sekali, merasakan ketidak adilan Tuhan terhadap saya, mengapa orang yang patuh dan mentaati peraturan selalu diperlakukan dengan sewenang-wenang. Suatu ketika saya mencarinya untuk berargumentasi, dia ketakutan oleh kemarahan saya, ditambah lagi dengan dia sendiri telah melakukan hal-hal yang bertentangan dengan hati nurani, takut saya bongkar. Jika saya bongkar skandal itu, maka dia tidak hanya akan kehilangan pekerjaan, juga akan dituntut secara hukum.
Akhirnya dia menggunakan relasi-nya untuk memutasi saya secara paksa, serta mengancam akan mengambil tindakan. Hati saya juga berusaha keras ingin balas dendam, sisi baik dari hati nurani saya mengatakan bahwa dendam harus dilepaskan, bukan justru disimpan di hati. Jika dia sampai dituntut karena perkara ini, maka yang saya menangkan adalah harga diri, tapi yang kalah adalah di dalam hati saya, karena saya tahu hati saya pasti akan sangat sedih.
Hati saya telah hambar, tidak lagi menyimpan dendam padanya. Saya percaya akan hukum karma dan reinkarnasi, tahu bahwa mengalami kesengsaraan dan berbuat kebaikan pada akhirnya akan mendatangkan kehidupan yang bahagia, dan dia selalu berbuat kejahatan, akhirnya karma akan kembali pada dirinya.
Setelah melepaskan nama, keuntungan pribadi dan perasaan, saya sekarang baru benar-benar bisa merasakan arti memiliki yang sesungguhnya. Dalam hati saya merasa puas, tidak berebut dan bertentangan dengan orang lain, saya juga telah memandang hambar akan harta, saya sudah merasa puas dengan uang yang sekedar cukup untuk memenuhi kebutuhan saya.
Sekarang saya merasakan bahwa saya adalah orang yang terkaya, karena saya sangat puas dengan penghasilan saya, masih bisa menyisihkan sebagian dari penghasilan saya untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi masyarakat, saya merasakan kemantapan dalam hati saya. Terhadap suami saya, saya mulai menghargai kelebihannya, jujur, setia, bisa memikirkan orang lain, hati yang tenang tanpa banyak keinginan, di dunia ini masih adakah seorang suami yang lebih baik dari pada dia?
Baru-baru ini saya menyadari, ada banyak hal disebabkan karena kita selalu berpikiran negatif, menyusup ke ujung tanduk (menelusup ke liang buntu), maka keadaan akan mengikuti pergerakan hati, sehingga merasakan segenap hal (manusia, peristiwa, benda) di sekitar kita tidak mulus (lancar). Ketika hati pikiran saya berbalik, segala hal yang sangat tidak baik pun bisa berubah menjadi baik, hal yang baik.
Dulu kelihatan orang tersebut sangat menjengkelkan, sekarang saya merasa orang itu sangat manis. Mengapa bisa mengalami perubahan yang begitu besar, karena hati saya telah berubah menjadi baik, hingga membuat hal yang memalukan menjadi hal yang menyenangkan, hal yang buruk menjadi hal yang baik.
Pepatah mengatakan : “Hati timbul pikiran baik, Langit (Tuhan) akan memberkahi keselamatannya”. Orang yang baik dan jujur paling indah, orang yang baik dan jujur pasti akan mendapatkan perlindungan dari Langit (Tuhan). 

0 comments:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Archive

 

zoom-mycasebook. Copyright 2009 All Rights Reserved Free Wordpress Themes by Brian Gardner Free Blogger Templates presents HD TV Watch Shows Online. Unblock through myspace proxy unblock, Songs by Christian Guitar Chords