Kamis, 03 Februari 2011

Mentega Atau Margarin


Orang Inuit (penduduk asli benua Artik) secara tradisional memiliki kebiasaan mengonsumsi makanan lemak hewan (lemak jenuh tinggi) tanpa menimbulkan konsekuensi kesehatan negatif.

Baru-baru ini beberapa pembaca menanyakan pertanyaan ini pada saya, “Mana yang lebih sehat, mentega atau margarin (mentega terbuat dari minyak nabati maupun hewani)?”

Mereka telah membaca suatu artikel di surat kabar mengenai pro dan kontra kedua produk tersebut dan menjadi bingung. Mudah dipahami mengapa hal ini terjadi. Beberapa tahun lalu, saya juga bertanya-tanya, mana diantaranya yang benar.
“Beralihlah ke margarin. Dapat membantu mencegah serangan jantung,” saran seorang ahli jantung pada saya saat itu, dengan demikian saya lantas beralih, karena saya tidak ingin mendapatkan serangan jantung lebih awal.
Penggunaan margarin meningkat setelah Perang Dunia II, karena dia lebih murah daripada mentega. Pesan ‘lebih baik bagi jantung’ merupakan faktor pemasaran utama.
Kenyataan bahwa margarin mengandung lebih sedikit lemak jenuh dan tidak mengandung kolesterol juga membuatnya menjadi pilihan yang lebih sehat. Namun benarkah?
Tanpa menghiraukan dari sisi mana Anda menganalisa pertanyaan ini, namun ada satu hal yang menonjol. Mentega adalah produk alami, dan margarin adalah produk pengganti, barang hasil produksi. Saya selalu waspada dengan produk pengganti dan mengingat perkataan Shakespeare: “Suatu produk pengganti bersinar seperti raja, sampai digantikan raja yang lain!”
Mentega mengandung lebih banyak lemak jenuh dibanding margarin dan mengandung kolesterol. Namun kolesterol bukanlah sesuatu yang jahat. Dia ada di setiap sel tubuh, dan hati memproduksi 90 persen kolesterol darah kita. Kita akan mati tanpanya.
Sejarah juga memandu kita dalam debat ini. Lemak jenuh telah digunakan selama beribu-ribu tahun dalam bentuk utama minyak goreng. Sebagai contoh, makanan berikut telah digunakan selama bertahun-tahun: lemak babi di China, mentega di Eropa, ghee di India, dan minyak kelapa di daerah tropis. Masyarakat Okinawa dikenal panjang umur, dan minyak goreng utama mereka adalah lemak babi.
Makanan Prancis mengandung lemak jenuh, namun tingkat serangan jantung mereka rendah. Di Kanada, makanan utama orang Eskimo adalah daging dan lemak babi. Mereka juga mempunyai tingkat penyakit jantung lebih rendah. Belakangan ini ada bukti baru yang menyatakan bahwa lemak jenuh tidak seburuk yang diperkirakan.   
Kita juga mempertimbangkan bagaimana margarin dibuat. Prosesnya dinamakan hidrogenasi, yang membuat cairan minyak menjadi padat pada suhu kamar. Untuk mendapatkannya, hidrogen ditambahkan pada minyak ini, tetapi akhirnya menciptakan asam lemak trans, yang tidak ditemukan di alam dan telah dikaitkan dengan penyakit jantung.
Saat ini, sebagian besar lemak trans telah dipisahkan dari margarin, tetapi dia masih tetap berupa produk olahan.
Titik pemasaran margarin adalah, dia mengandung asam omega-3 pen-ting. Tetapi hanya sedikit konsumen yang mengetahui jika tidak semua asam omega-3 adalah sama. Sebagai contoh, margarin dibuat dari tanaman seperti minyak kedelai dan canola. Beberapa ahli mengakui bahwa kedua minyak ini tidak sebagus asam omega-3 yang terkandung pada ikan.
Kritikus juga menekankan bahwa minyak nabati yang digunakan untuk membuat margarin mengandung sejumlah besar asam omega-6. Tubuh kita memerlukan zat asam jenis ini, tetapi belakangan ini orang terlalu banyak menggunakannya pada makanan olahan. Ketidakseimbangan antara omega-3 dan omega-6 telah dikaitkan dengan kenaikan penyakit kardiovaskular, asma, kanker, depresi, dan permasalahan lain.
[Catatan editor: Baik minyak kedelai dan canola memiliki jumlah lemak omega-6 lebih besar dari lemak omega-3]
Saya teringat pendapat dokter ahli jantung saya beberapa tahun lalu. Saya tidak percaya jika ayam dan sapi peternakan bertanggung jawab atas meningkatnya angka penyakit jantung. Saya pikir itu adalah kombinasi kebodohan manusia seperti epidemi obesitas, diabetes, hipertensi, dan kelesuan umum yang menjadi bagian tak terpisahkan dari masyarakat kita.
Seratus tahun lalu, serangan jantung jarang terjadi. Dr. Paul Dudley White, ahli kardiologi Harvard ternama menyatakan bahwa begitu jarangnya terjadi sampai-sampai dokter lain akan diundang saat terjadi keadaan darurat, sehingga mereka dapat belajar dari pengalaman.
Saat ini Anda tidak perlu menunggu lama di semua rumah sakit utama untuk mempelajari serangan jantung. Semestinya hal ini menyampaikan pesan pada kita.

0 comments:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Archive

 

zoom-mycasebook. Copyright 2009 All Rights Reserved Free Wordpress Themes by Brian Gardner Free Blogger Templates presents HD TV Watch Shows Online. Unblock through myspace proxy unblock, Songs by Christian Guitar Chords