Rabu, 02 Februari 2011

Musik Bisa Bantu Anak yang Sulit Belajar


alt
Musisi lebih baik daripada non-musisi dalam mengenali suara di lingkungan ramai. (WANG JIAYI/THE EPOCH TIMES)

Jurnal Neuroscience melaporkan bahwa musisi lebih baik daripada non-musisi dalam mengenali suara di lingkungan ramai. Penemuan penelitian yang dilakukan oleh para neurobiologis di Universitas Northwestern di Chicago adalah  bukti biologis pertama bahwa musisi mempunyai keuntungan persepsi  "suara dalam keramaian".

Dibandingkan dengan non-musisi, musisi memperlihatkan keharmonisan syaraf, pemahaman lebih tinggi terhadap nada suara, dan menangkap lebih baik struktur kata dalam keramaian. Itu  artinya mereka adalah komunikator yang lebih efektif dalam lingkungan yang ramai.
"Para musisi dapat mengubah elemen pokok yang terdiri dari suara wicara-konsonan, suku-kata, waktu dan nada dengan ketepatan lebih tinggi meskipun dalam pengaruh situasi yang ramai," kata ketua peneliti Nina Kraus, Hugh Knowles Professor direktur Auditory Neuroscience Laboratory Universitas Northwestern.
Hal ini dimungkinkan terjadi karena proses kognitif yang melibatkan perhatian pendengaran dan penguatan kenangan ingatan dalam sistem syaraf musisi, memungkinkan mereka dapat merasakan dan membedakan relevansi suara. Memahami dasar biologis adalah tujuan dari penelitian tersebut, yang mana juga mungkin bermanfaat bagi anak-anak dan orang dewasa, yang mengalami kesulitan mendengar suara.
Persepsi suara adalah hal kompleks yang dihadapi orang setiap hari. Tuntutan kognitif kinerja musik juga sama kompleksnya sehingga hal itu membutuhkan seorang musisi mampu menguraikan alat atau suara secara bersamaan.
Peneliti berhipotesis bahwa pengalaman seumur hidup seorang musisi "memisahkan jenis musik", memungkinkan mereka dapat memecah suara dan instrumen musik secara bersamaan selama permainkan musik, hal ini juga akan memberi musisi sebuah keuntungan dalam lingkungan "suara dalam keramaian".
Bekerja sama dengan Alexandra Parbery-Clark, mahasiswa doktoral, dan Erika Skoe, Proyek Manajer, keduanya dari Universitas Northwestern, peneliti mengumpulkan 16 musisi yang sangat terlatih dan 15 non-musisi. Masing-masing peserta memakai headset dan diperdengarkan audio tertentu dan latar belakang bunyi. Audio tersebut terdiri atas bunyi suara spesifik, konsonan, suku-kata dan semacamnya, sedangkan latar belakang bunyi terdiri atas celoteh pembicaraan oleh enam orang pembicara berbeda.
Kraus dan timnya membandingkan respon pusat syaraf masing-masing peserta. Mereka menemukan bahwa baik dalam lingkungan sepi maupun gaduh, musisi yang sangat terlatih bisa lebih mudah membedakan sasaran perangsang akustik.
Kraus mengatakan kesimpulan ini bisa berguna bagi siapa saja yang mempunyai masalah dalam memahami bahasa dalam tempat yang kompleks. "Mendengar bunyi dalam keramaian adalah sulit bagi setiap orang, tetapi bagi anak yang memiliki masalah belajar bisa sangat kesulitan. Contohnya anak dengan masalah pertumbuhan dyslexia, termasuk manula," kata Kraus.
"Implikasinya adalah bahwa pengalaman musik memperkuat proses biologis yang berguna untuk mendapatkan sinyal penting dari lingkungan ramai di manapun, baik itu di ruang kelas, ataupun di ruang rapat dewan."
Studi menunjukkan bahwa dalam jangka panjang, bahkan bertahun-tahun, mereka akan dapat menyediakan bukti  keuntungan biologis dari pendidikan musik yang lebih berarti. 

0 comments:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Archive

 

zoom-mycasebook. Copyright 2009 All Rights Reserved Free Wordpress Themes by Brian Gardner Free Blogger Templates presents HD TV Watch Shows Online. Unblock through myspace proxy unblock, Songs by Christian Guitar Chords